TRI SULISTINI

Guru di SMPN 6 Pamekasan...

Selengkapnya

LEBARAN BEDA RASA

LEBARAN BEDA RASA

Biasanya, di lebaran ketujuh, hari raya ketupat, keluarga saya akan sibuk bangun pagi. Lalu, para lelaki di rumah saya akan bergegas berangkat ke daerah Jungcangcang. Ini adalah, kampung halaman suami saya. Di sana mereka akan ke masjid lalu berdzikir bersama. Sementara saya dan anak perempuan saya, sesekali ikut tapi lebih sering lagi memilih tinggal di rumah. Sementara di kampung halaman saya, tidak ada aktifitas di musholla. Hanya sebagai tradisi, akan banyak tetangga saling berhantar makanan khas hari raya ketupat yaitu ketupat dan kroni-kroninya seperti opor ayam atau daging, mie, sambal goreng daging atau sambel goreng hati/rempello, acar dan sebagainya.

Tapi, kali ini berbeda. Kami, saya sekeluarga, memang bangun awal seperti biasa. Bergegas mandi. Nah, kemudian, saya membantu anak-anak menyiapkan dan mengecek ulang tas bawaan. Ya, tiga buah hati saya, mas AL-fathi mbak Hanun Dinah Syafitri dan adik Azki Thechess beserta seluruh tim Percasi Kabupaten Pamekasan, pagi ini sekira pukul lima, berangkat menuju ajang Kejuaraan Provinsi Catur se-Jawa Timur 2019 di Tulungagung.

Tanpa terasa, menetes air mata saya. Biasanya mereka akan berangkat sambil berteriak-teriak sembari bersiap ke masjid. Bergurau. Pamit, berangkat ramai. Pulang atau datang pun ramai. Lalu makan ketupat bareng. Ini saya jadi malas makan. Ketupat hantaran tetangga tak tersentuh. Maka jadilah sang ibu menangis. Berandai-andai ketiga buah hatinya ada lalu berlebaran, makan ketupat bersama. Tapi hidup ini benar-benar pilihan, membiarkan mereka pergi berjuang untuk mengibarkan panji-panji kota tercinta, kabupaten Pamekasan, atau memintanya tinggal untuk sekedar berlebaran ketupat bersama.

Saya lebih memilih yang pertama. Saya tahu beratnya perjuangan mereka meraih tiket untuk bisa lolos mewakili kabupaten ini. Saya tahu betapa "gilanya" mereka berlatih. Selama ramadhan, hampir tiap malam mereka berlatih. Selepas tadarus, sekira pukul sembilan malam, mereka mulai berlatih, hingga kurang lebih pukul satu atau dini hari. Siang pun begitu. Bahkan, malam lebaran Idul Fitri, sesaat setelah mereka selesai bertakbiran dari musholla, mereka pun berlatih. Lalu, jika saya meminta mereka tinggal untuk berlebaran ketupat bersama saya di sini, apa gunanya segala jerih dan upaya ini? Egois sekali saya sebagai seorang ibu bukan?

Nanti, pulang pun dari kota Tulungagung, mereka masih akan terus berlatih. Bulan depan agenda PORPROV se-Jawa Timur di kabupaten Bojonegoro sudah menunggu mereka. Ajang ini hanya akan diikuti oleh 12 regu (kabupaten/kota) dari 38 kabupaten/kota yang telah lolos seleksi dan 24 peserta perorangan yang telah lolos seleksi dari 76 peserta dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, beberapa bulan yang lalu.

Hari raya ketupat tahun ini berasa beda sekali. Sepi!! Entahlah...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Demi untuk yang lebih, mengapa tidak ditahan rindunya yah Bund. Sukses selalu dan barakallahu fiik

12 Jun
Balas

Iya Bunda. Ternyata memang tetap harus ada pilihan. Trima ksih Bunda sdh bergabung... Sehat dan bahagia selalu ya bun... Aamiin

12 Jun
Balas

Iya Bunda. Ternyata memang tetap harus ada pilihan. Trima ksih Bunda sdh bergabung... Sehat dan bahagia selalu ya bun... Aamiin

12 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali